Minggu, 23 Juni 2013

selembar yang sangat berguna



Entah kenapa tiba-tiba ingin menulis tentang "uang". Yah, sesuatu yang dianggap sebagian manusia adalah "tujuan hidup". Sesuatu yang bisa membahagiakan orang-orang yang sedang bersedih hati, sesuatu yang bisa memuaskan hati dan lain sebagainya.

Uang, memang tak ada ujungnya jika membahas tentang hal yang satu ini. Tapi kali ini saya tidak sedang ingin membicarakan uang dari perspektif ekonomi. Saya hanya terinspirasi untuk berbagi sedikit cerita tentang "uang dan saya".

Nah, jadi seperti ini ceritanya. Dua pekan terakhir ini saya sedikit dibingungkan oleh keadaan keuangan saya. Kenapa demikan? yah tidak seperti biasanya, entah karena apa uang saya begitu cepat habis akhir-akhir ini.
Kalau dihitung-hitung dengan aktivitas sih mungkin memang sudah wajar sih yah, ditambah dengan kenaikan ongkos angkot akibat naiknya harga BBM. Sebagai orang dengan mobilitas tinggi --tanpa kendaraan sendiri-- otomatis saya akan kesusahan sendiri. Berkorban sendiri sehingga tak terasa dompet makin menipis saja. Pertanyaan berikutnya, apa yang membuat saya harus ber-mobilitas tinggi? --selain bahwa saya adalah tukang makan sembarangan-- hal ini disebabkan karena rutinitas yang sedikit bertambah dari biasanya. dan jadwal jalan-jalan tiap akhir pekan juga ternyata sangat berpengaruh. Aduh.. memang untuk senang-senang itu butuh pengorbanan yah. 
Tiba-tiba saja saya berpikir uang kadang bisa menjadi segala-galanya. Iya, selembar yang sangat berguna. Nah hal ini sangatlah pelik jika kembali menyadari, saat ini saya masih berstatus "pengangguran intelek" yang masih sangat amat bergantung pada orang tua. Kadang saya sendiri merasa bersalah, mungkin wajar sih, orang tua juga hanya protes jika jarak antara dikirim uang dan habis uang itu sangat sebentar. haahhh kadang berpikir saya ini kurang tahu malu juga yah.. tapi mau bagaimana lagi. 
Mau kerja juga salah-salah. soalnya lagi tunggu pengumuman, dan tunggu pengumumannya sampai pertengahan juli. Masih sebulan lagi. Sebenarnya sih saya ngajar di kursus, tapi gajinya habis diongkos, soalnya jarak antara rumah dan kursus jauh. Jadi yah sekedar mengisi waktu saja sih. Selain bersosialisasi dan menambah pengetahuan tentang memahami pemikiran orang lain.
Mungkin karena hal ini sehingga banyak orang yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang. mungkin, yah mungkin. Tapi untunglah saya tidak pernah berpikir ke arah sana. Saat ini saya hanya berkonsentrasi untuk mengajar saja, sambil menunggu pengumuman. Insha Allah setelah Ramadhan kita telah punya keputusan, apa yang selanjutnya akan dilakukan. Apakah melanjutkan study, ataukah melanjutkan menjadi jobseeker. 
Semoga dimudahkan.. amiiinnn

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Lihat Juga