Kamis, 30 Mei 2013

Atap Sulawesi (II)

28 April, sekitar pukul 9 pagi, kami memulai pendakian. pendakian dari Desa Karangan menuju pos 1. hari ini targetnya adalah tiba di pos 5 sore. 
ada kejadian unik di perjalanan menuju pos 1. tim leader kami yang terdiri dari 6 orang ternyata melalui jalur lain, tidak pada jalur sebenarnya. kami mengetahui hal ini disebabkan karena kami bertemu beberapa petani yang mengatakan hal tersebut. mereka mengatakan: "teman kalian itu lewat jalan yang menuju puncak nene mori, bukan rante mario, tapi kalian bisa bertemu dengannya nanti pas di pos 7"
bagaimana ceritanya?
secara mereka kan leader, dan kami adalah satu tim.
sore hari, menjelang magrib semua peserta sampai di pos 5. bersih bersih persiapkan makan malam, makan malam dan briefing.
pada saat briefing ini lah, masalah 'leader tersesat' ini kemudian dibahas. 
banyak pendapat yang kemudian diperoleh dari diskusi ini. solusi terakhir adalah, beberapa orang turun mencari hingga ke pos 1 dan beberapa yang lain mencari ke atas, hingga ke pos 7. jika perlu mereka harus membawa tenda dan menuggu disana. briefing masih berlanjut ketika kami mendengarkan suara teriakan, seketika kami semua berucap syukur, alhamdulillah, ternyata 'leader tersesat' ini telah sampai di pos 5. meski hanya 3 orang, 3 yang lain camp di pos 2 katanya, tidak sanggup melanjutkan perjalanan, karena salah satunya sempat terjatuh di penyeberangan menuju pos 2. tapi untung tidak terjadi apa-apa yang lebih buruk.

ah yaa.. tentang jalur trekingnya..
waww.. bagaimana menjelaskannya yah. karangan - pos 1 nanjak... pokoknya at all mendaki. pos 1-2 nanjak dulu.. dan menurun begitu dekat dengan pos 2. seterusnya pos 2-5  menanjak saja. 
jalur yang sedikit menakutkan, dikelilingi oleh hutan hutan primer yang sangat asli, beberapa pepohonan tumbang menjadi penghalang jalan yang sesekali membuat kami kewalahan. 

esok harinya 29 April, kami melanjutkan perjalanan menuju pos 7.
dan perjalanan inilah yang amat sangat menguras tenaga,
but i don't have any words to explain it, 
yah pokoknya kami memulai perjalanan pagi hari, sekitar pukul 9, dan semua sampai di pos 7 sekitar jam 5 sore.
menghabiskan waktu semalaman di pos 7. saya terserang kedinginan, setelah melaksanakan shalat magrib, tubuh menggigil, pasang kantong tidur ternyata tidak mengubah apa apa sama sekali, dingin masih menusuk-nusuk, semalaman saya hanya bisa berdoa saja, dan pagi harinya semua kembali baik baik saja. ahamdulillah.
menuju puncak..
perjalanan menuju puncak yahh lumayan menguras tenaga, tapi masih lebih parah kemarin sih yah. 
sekitar pukul 9, kami berada di puncak, yaay kami berada di puncak tertinggi Pulau Sulawesi, kami berada di Atap Sulawesi
puas foto-foto kami turun kembali ke pos 7.
berkemas dan kembali langsung ke karangan hari itu juga.
what happen to me?? want you know??
buat saya ini adalah hal yang amat sangat mengharukan, mendramatisir, dan inilah yang disebut sebagai kemalangan. 
perjalanan dari pos 7-6 setengah jalan masih baik-baik saja, masih normal, carrier masih di pundak, beberapa meter sebelum sampai di pos 6, tiba-tiba lutut saya gemetaran hebat, aduh what happen ini?
tim swiper menawarkan untuk menukar carrier saya dengan daypacknya, oke tukar. ternyata tidak lebih baik, saya yakin ini karena lutut yang kaget, baru saja kemarin-kemarin nanjaak nanjak nanjak, eh hari ini malan nurun nurun nurun, ya kaget lah. akhirnya saya putuskan untuk jalan mundur (huahuahua.. memalukan.. tidak bisa diterima.. kemarin ke semeru tidak sampai begini)
total saya jalan mundur dari pos 6-2
hahahahaha...
dan kami sampai di karangan pukul 11 malam. bermalam di karangan lagi, besok pagi kemudian melanjutkan perjalanan ke rante lemo.
tanggal 2 mei dini hari kami sampai di sekretariat PAL.

jadi begitulah kira-kira review perjalanan selama pendakian, yang berakhir pada pegal-pegal di seluruh badan, bengkak di jari-jari kaki, dan lutut yang tidak bisa dibengkokkan (bisa sih, cuma susaaah minta ampun).
itu mungkin keluh kesahnya, jangan tanya happy-happy, ilmu dan pengalaman yang didapat dari sana..
yah saya ngasih jempol 4. treking yang betul betul disebut asli mendaki, hutan yang betul betul disebut asli hutan, yang belum terjamah tangan-tangan manusia (lah siapa pula yang berniat kalau jalan kesana saja sudah beresiko seperti itu) 
dan seperti biasanya, akhir kata, saya berdoa suatu saat bisa kesana lagi, tapi pulangnya tidak dengan jalan mundur pastinya. hahaha

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Lihat Juga