Selasa, 28 Mei 2013

Atap Sulawesi (I)

Atap Sulawesi adalah julukan yang pastinya sudah sangat akrab di telinga para pendaki gunung yang mengaku pecinta alam, khususnya yang berdomisili di Sulawesi.

yup. dimana lagi kalau bukan Gunung Latimojong. Puncak tertinggi pulau Sulawesi. kali ini saya akan bercerita tentang perjalanan pendakian ke puncak Latimojong dari 26 April hingga 2 Mei kemarin.

hari jumat, tanggal 26 April saya dan teman-teman PAL (Pandu Alam Lingkungan) Universitas Hasanuddin, bersama dengan kurang lebih 20 partisipan lainnya dari berbagai universitas di Makassar, berangkat menuju Enrekang, yang merupakan Kabupaten tempat Gunung Latimojong ini berada. Tepat pukul 20.25 bis berangkat dari sekretariat PAL di Unhas.
sekitar pukul 05.00 subuh hari sabtunya, kami tiba di Desa Baraka. di rumah penduduk yang juga adalah kerabat salah satu panitia, kami melaksanakan shalat subuh, sarapan dan istirahat sebentar sebelum kemudian melanjutkan perjalanan menuju Desa Rante Lemo. 
pukul 07.00 kami berangkat dengan truk yang memang biasa mengangkut pendaki hingga ke Rante Lemo. sedikit review yang sempat saya tulis di memo handphone waktu itu: 09.54 panas, ngeri degdegan. kebun tomat. supir menggali. truk macet. yang lain turun angkat batu. jalanannya ngeri sekali. rasa seperti menaiki dragon tower. ini perjalanan hidup dan mati. suer. (berdoa)
ahaa... agak lebay sih. tapi at all itulah yang saya rasakan saat itu. kali pertama saya melalui jalanan yang seperti itu. jika supir truk tidak berpengalaman dan terkecoh sedikit saja. saya yakin truk akan terbalik. bayangkan jika dapat jalanan yang sangat-sangat buruk dimana ban truk sebelah kanan melewati jalanan yang lebih rendah dari yang kiri. otomatis truk akan ikut miring juga. dan kemiringannya bisa hingga 45 derajat atau kurang. jika dalam kondisi seperti itu semua akan serentak berteriak. uwaaau aaaaa... 
sekitar pukul 11.00 penderitaan itupun berakhir yaelah penderitaan kami sampai di Desa Rante Lemo. tepat sebelum jembatan, disana kami beristirahat sebentar, sekaligus makan siang walau cuma roti saja
selanjutnya kami melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki menuju desa terakhir sekaligus titik awal pendakian yakni Desa Karangan.
dan 
Subhanallah.. ternyata dari Rante Lemo menuju Karangan saja sudah menguras tenaga yang super duper banyak. karena ternyata sudah mulai menanjak, meskipun tanjakannya masih yang standar-standar, namun sangat sedikit jalanan yang rata lebih-lebih menurun.
disini saya berpikir: ini baru mau ke Karangan loh? desa terakhir, anggap saja pendakian belum dimulai. OhmayGod. belum dimulai saja sudah begini. 
Tetapi apapun yang terjadi ini adalah konsekuensi, jadi setelah berpikir itu kemudian disusul oleh pemikiran: apapun yang terjadi harus bisa sampai Karangan hari ini, stop mengeluh atau berpikir negatif.
dan skitar pukul 14.00 sampai jugalah kami di Karangan.. bersih bersih, shalat, siapkan makan, istirahat. dan bermalam minggu di sana.
yeaw bermalam minggu tanpa signal sama sekali.. idiiiuuwwwhhh.. lebih baik tidur, istirahat yang banyak untuk persiapan pendakian besok, lagipula cuaca yang sangat dingin mendukung untuk tidur saja.

bersambung...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Lihat Juga